Madura Lumbung Santri dan Intelektual

Senin, 11 April 2011

“SURAT BUAT KEKASIHKU YANG HILANG”


Melalui blog ini kutulis sebuah surat, untuk melimpahkan semua rinduku yang telah terpendam sejak perpisahan itu.

Shobat…! waktu kebersamaan kita yang begitu cepat, telah mampu menorehkan harapan yang begitu dalam.

Shobat… Tak dapat lagi kita makan jagung kesukaan kamu sambil ngobrol Bahasa English ngalor-ngidul di depan Garuda Park tempat favorit nongkrong kita.

Masih kuingat saat pertama kali kita bertemu di GENTA Pare our campus, ketika kita bergantian menghafal vocabularies dan masih terukir senyum manismu yang menyegarkan duniaku saat kukatakan “aku suka kamu”. Masih terasa cubitan sayangmu saat kukatakan “aku ingin anak-anakku nanti lahir darimu dan engkaulah yang akan menjadi ustadah baginya”

Kadang aku tersenyum sendiri seperti orang gila, jika aku mengingat semua kenangan kita dulu, , tapi kini semua telah hilang.

Menjelang acara perpisahan itu, engkau sempat kirim SMS “aku tak akan pernah berhenti mencintaimu” semoga saja ini bukan SMS terakhir darimu. Di detik-detik terakhir kita berpisah di terminal, tetesan air matamu membuat kesedihan yang abadi menusuk dalam jiwaku.



Dan kini kau pergi entah kemana, membawa semua kenangan yang kita bina.

Tak ada kabar sejak perpisahan itu. Tak tahu dimana rimbamu. Yang ku tahu kau masih mencintaiku. Pada tiap desir angin yang lewat ku kirimkan kabar buatmu dan bila ku rindu padamu kutatap bintang, dan kuberharap temukan dirimu diantara seribu bintang.

Tapi, terkadang aku tersiksa oleh rasa kesendirian. Tertinggal dalam hidup yang tak lagi punya makna dan harapan, Ya Allah… Ya Tuhanku, Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, masih adakah dia? kalau memang sudah tidak ada, tunjukkan dimanakah nisannya?

Untuk shobatku tercinta, yang kini telah hilang. Semoga cintamu tak pernah menghilang. Karena aku juga ” tak akan pernah berhenti mencintaimu”

Dari: yang merindukanmu

02 April 2011

Rabu, 03 November 2010

Jumat, 27 Agustus 2010

Idiih, Puasa Kok Bohong!



Di akhir Pondok Ramadhan saya menemukan hal yang luar biasa, seorang siswa berdebat dengan temannya. Ketika temannya tadi dilihatnya melakukan kebohongan, ia langsung berkata kepadanya, ”Idiih, Puasa Kok Bohong, kita sedang berpuasa, tidak boleh berbohong.”. Temannya tadi menjawab, ”Memang kalau tidak berpuasa kita boleh berbohong?”. ”Bukan begitu,” sahut siswa tadi. ”Kata ibu, orang puasa itu kalau berbohong puasanya batal,” tambahnya. ”Ah, mana mungkin puasa kita batal, bukankah kita tidak makan dan tidak minum?” jawab teman tadi mendebat. ”

Itulah diskusi tingkat siswa MI pada acara Pondok Ramadhan. Kendati demikian, substansi diskusi itu tidak hanya berkaitan dengan anak-anak, tetapi juga sering melibatkan orang dewasa. Banyak orang beranggapan bahwa berbohong dan atau menggunjing orang lain saat berpuasa akan membatalkan puasanya. Bagaimana sebenarnya duduk perkaranya?.

Hadits Palsu
Sebenarnya kata ibu seorang siswa tadi adalah sebuah Hadits, teks lengkapnya sebagai berikut: ”Lima hal yang membatalkan orang berpuasa, dan membatalkan wudlu. Berbohong, mengumpat, mengadu domba, melihat lawan jenis dengan syahwat, dan sumpah palsu.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu al-Fath al-Azdi dalam kitabnya al-Dhu’afa wa al-Matrukin, dan al-Dailami dalam Musnad al-firdaus, berasal dari Anas bin Malik. Imam al-Suyuti menyatakan bahwa Hadits ini dha’if. Sementara para ahli Hadits lain, seperti Abu Hatim, Ibn al-Jauzi, al-Iraqi dan al-Dzahabi menilai Hadits ini palsu. Hadits ini juga tercantum dalam kitab Ihya’ Ulum al-Din, Hadits ini palsu. Juga tercantum dalam kitab Durroh al-Nashihin karya Utsman al-Khubbani, tanpa menyebutkan kualitasnya. Penilaian al-Suyuti ini tidak bertentangan dengan penilaian para ahli Hadits yang lain, karena Hadits palsu itu bagian dari Hadits dha’if.

Kepalsuan Hadits ini cukup parah, karena di dalam sanadnya terdapat rawi-rawi pendusta. Mereka itu antara lain Sa’id bin Anbasah, Muhammad bin al-Hajjaj al-Himshi dan Jaban. Menurut kritikus Hadits Imam Yahya bin Ma’in, Sa’id bin Anbasah adalah pendusta. Begitu pula menurut kritikus Hadits al-Iraqi. Sementara Muhammad bin al-Hajjaj al-Himshi menurut al-Azdi tidak boleh ditulis Haditsnya. Sedangkan Jaban menurut al-Dzhabi tidak dikenal identitasnya, bahkan menurut al-Azdi, Jaban adalah matruk al-Hadits (Haditsnya matruk, semi palsu).

Dalam disiplin ilmu Hadits, apabila dalam sanad sebuah Hadits terdapat satu rawi saja yang pendusta, maka Hadits itu dapat dinilai sebagai Hadits palsu atau Hadits semi palsu. Dan dalam Hadits pembatal puasa ini rawi-rawi yang lemah itu lebih dari satu orang. Karenanya, kualitas Hadits ini sangat parah, sangat palsu, karena rawi-rawi yang pendusta lebih dari satu orang. Ini belum ditambah rawi lain yang terdapat dalam sanad Hadits tersebut, yang juga lemah, seperti Baqiyah, kendati tidak separah yang lain.

Matannya Juga Lemah
Disamping lemah dari segi sanadnya, Hadits ini juga lemah dari segi matannya. Hal itu, karena Hadits itu menyebutkan bahwa perbuatan bohong, mengadu domba, mengumpat, melihat lawan jenis dengan syahwat dan bersumpah palsu adalah membatalkan puasa dan wudlu’.

Dalam kitab-kitab fiqih (hukum Islam), tidak ditemukan keterangan bahwa berbohong dan sebagainya itu membatalkan wudlu’. Apabila perbuatan-perbuatan itu tidak membatalkan wudlu’, maka hal itu juga tidak membatalkan puasa. Karena wudlu’ di situ disebutkan satu rangkaian dengan puasa.

Menghancurkan Pahala
Kendati Hadits itu palsu dan tidak dapat dijadikan dalil sama sekali, namun lima perbuatan itu tetap dilarang oleh agama. Karena perbuatan tersebut akan mendatangkan dosa, dan dosa dapat menghancurkan pahala ibadah.

Karenanya, meskipun Hadits itu palsu, namun hal itu tidak berarti ketika sedang berpuasa kita boleh berbohong dan sebagainya. Lima perbuatan itu tetap tidak boleh dikerjakan, baik kita sedang berpuasa maupun sedang tidak berpuasa. Hal itu karena ada Hadits lain yang shahih yang melarang perbuatan tersebut.

(Silahkan hadits-hadits di atas juga di koreksi di Maktabah Samilah)

Senin, 23 Agustus 2010

Catatan Pondok Ramadhan



Pada hari pertama pondok ramadhan ada hal menarik yang perlu aku tulis mungkin bisa diambil hikmahnya, seorang siswa bertanya kepadaku, katanya: "pak ustad boleh gak ya, kumur-kumur waktu puasa dengan alasan supaya gak bau mulut?.." sambil tersenyum aku jawab: "ini pertanyaan yang paling bagus"

Berkumur saat puasa? Begini anak-anakku.. (belum punya istri tapi udah banyak anak nich..) Tidak semua yang masuk kedalam mulut itu membatalkan puasa. Secara logika mungkin kita berfikir: Jika kita berkumur tentu akan ada air yang bercampur dengan air liur, walaupun sedikit tentu akan tertelan.

Mungkin berfikir logika seperti itu benar adanya. Tapi ada satu hukum yang pasti dalam agama ini: DAHULUKAN DALIL DARI AKAL, DAHULUKAN NASH DARI FIKIRAN ANNAAS (MANUSIA).

Nah untuk menjawab masalahmu ini, dan masalah masalah lainnya tentunya, kita harus mencari dulu ada tidaknya dalil yang berkaitan.

Pertama, tentu al quran, jika tidak ditemukan cari hadistnya, jika masih tidak ditemukan, cari ketetapan2 ulama yang disepakati jumhur.

Ingat anak-anakku, jika Islam ini mengatur adab ke kamar mandi, tentulah tidak ada 1 masalah pun yang akan Islam lewatkan. Termasuk pertanyaanmu ini.

Kembali ke pertanyaanmu, berikut ada beberapa hadits yang bisa menjawabnya:

Dari Umar bin Al-Khatab ra. berkata, "Suatu hari aku beristirahat dan mencium isteriku sedangkan aku berpuasa. Lalu aku datangi nabi SAW dan bertanya, "Aku telah melakukan sesuatu yang fatal hari ini. Aku telah mencium dalam keadaan berpuasa." Rasulullah SAW menjawab, "Tidakkah kamu tahu hukumnya bila kamu berkumur dalam keadaan berpuasa?" Aku menjawab, "Tidak membatalkan puasa." Rasulullah SAW menjawab, "Maka mencium itu pun tidak membatalkan puasa." (HR Ahmad dan Abu Daud)

Dari Laqith bin Shabrah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sempurnakanlah wudhu', dan basahi sela jari-jari, perbanyaklah dalam istinsyak (memasukkan air ke hidung), kecuali bila sedang berpuasa." (HR Arba'ah dan Ibnu Khuzaemah menshahihkannya).

Untuk hadits ke-2 yang dimaksud ulama menyamakan kedudukan istinsyak (memasukkan air kedalam hidung) dengan berkumur. Cermati kalimat "Kecuali bila sedang berpuasa". Kalimat itu bukanlah larangan melakukannya tapi larangan untuk berlebih-lebihan (terlalu banyak).

Kesimpulannya anak-anakku.., berkumur boleh asal tidak berlebihan dan tidak dimaksudkan untuk menghilangkan haus atau sengaja ingin menelan airnya..

Catatan Pondok Ramadhan


Pada hari pertama pondok ramadhan ada hal menarik yang perlu aku tulis mungkin bisa diambil hikmahnya, seorang siswa bertanya kepadaku, katanya: "pak ustad boleh gak ya, kumur-kumur waktu puasa dengan alasan supaya gak bau mulut?.." sambil tersenyum aku jawab: "ini pertanyaan yang paling bagus"

Berkumur saat puasa? Begini anak-anakku.. (belum punya istri tapi udah banyak anak nich..) Tidak semua yang masuk kedalam mulut itu membatalkan puasa. Secara logika mungkin kita berfikir: Jika kita berkumur tentu akan ada air yang bercampur dengan air liur, walaupun sedikit tentu akan tertelan.

Mungkin berfikir logika seperti itu benar adanya. Tapi ada satu hukum yang pasti dalam agama ini: DAHULUKAN DALIL DARI AKAL, DAHULUKAN NASH DARI FIKIRAN ANNAAS (MANUSIA).

Nah untuk menjawab masalahmu ini, dan masalah masalah lainnya tentunya, kita harus mencari dulu ada tidaknya dalil yang berkaitan.

Pertama, tentu al quran, jika tidak ditemukan cari hadistnya, jika masih tidak ditemukan, cari ketetapan2 ulama yang disepakati jumhur.

Ingat anak-anakku, jika Islam ini mengatur adab ke kamar mandi, tentulah tidak ada 1 masalah pun yang akan Islam lewatkan. Termasuk pertanyaanmu ini.

Kembali ke pertanyaanmu, berikut ada beberapa hadits yang bisa menjawabnya:

Dari Umar bin Al-Khatab ra. berkata, "Suatu hari aku beristirahat dan mencium isteriku sedangkan aku berpuasa. Lalu aku datangi nabi SAW dan bertanya, "Aku telah melakukan sesuatu yang fatal hari ini. Aku telah mencium dalam keadaan berpuasa." Rasulullah SAW menjawab, "Tidakkah kamu tahu hukumnya bila kamu berkumur dalam keadaan berpuasa?" Aku menjawab, "Tidak membatalkan puasa." Rasulullah SAW menjawab, "Maka mencium itu pun tidak membatalkan puasa." (HR Ahmad dan Abu Daud)

Dari Laqith bin Shabrah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sempurnakanlah wudhu', dan basahi sela jari-jari, perbanyaklah dalam istinsyak (memasukkan air ke hidung), kecuali bila sedang berpuasa." (HR Arba'ah dan Ibnu Khuzaemah menshahihkannya).

Untuk hadits ke-2 yang dimaksud ulama menyamakan kedudukan istinsyak (memasukkan air kedalam hidung) dengan berkumur. Cermati kalimat "Kecuali bila sedang berpuasa". Kalimat itu bukanlah larangan melakukannya tapi larangan untuk berlebih-lebihan (terlalu banyak).

Kesimpulannya anak-anakku.., berkumur boleh asal tidak berlebihan dan tidak dimaksudkan untuk menghilangkan haus atau sengaja ingin menelan airnya..

Minggu, 08 November 2009

Kalau lulus kuliah kamu mau kerja apa?


Pertanyaan ini selalu dilontarkan ibuku, saudara-saudaraku, tetanggaku, saat aku pulang kampung ke Madura. Seperti kemarin, saat aku nelpon ibuku, jujur, aku bingung kalau ditanya masalah kerja selepas kuliah. Aku tak tahu harus menerangkan seperti apa. Ditambah ibuku mengharapkan agar aku menjadi seorang PNS. Padahal cita-citaku waktu kecil pengen jadi Polisi, karena dulu aku suka nonton film India yang jagoannya polisi.

(sebelumnya maaf kepada PNS karena tulisan ini hanya pendapat pribadi, tanpa menafikan peran PNS yang banyak bermanfaat bagi masyarakat)
Memang keinginan itu sudah lama ibu sampaikan. Artinya harapan itu benar-benar sebuah harapan seorang ibu pada anaknya, Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dengan nada becanda aku menanggapi, sebenarnya aku sama sekali tidak tertarik dengan PNS. Kerja PNS (misal Pemda) terlalu sederhana. Banyak waktu luang di kantor. Sama sekali kurang menantang dan lain sebagainya. Aku sampaikan, seumpama aku menjadi PNS, bisa jadi otakku tambah tumpul dan tidak terasah.

Bagaimana terasah kalau setiap hari PNS hanya memenuhi rutinitas di kantor. Bagaimana mungkin tertantang kalau PNS hanya sendiko dawuh pada atasannya. Aku tidak bisa membayangkan begitu membosankannya kerja itu. Aku rasa, aku tidak akan bisa menikmatinya.

Masih dalam telpon, lantas ibuku bertanya, sebenarnya kamu ini mau kerja seperti apa? Dengan sedikit becanda aku sampaikan kalau aku ingin bekerja mengabdikan hidupku pada dunia pendidikan. Aku tak tahu apakah ibuku paham apa yang aku katakan. Akhirnya aku jawab lagi sekenanya, kalau tidak di kemasyarakatan, aku ingin di pemberdayaan (LSM) atau mendirikan sebuah lembaga yang mandiri.

Ibuku menimpali, “Pendidikan, lha nanti ibu dapat apa?”. Sebuah lontaran yang sulit, karena aku rasa lontaran ini bersifat emosional, antara ibu dengan anak. Masih dengan nada becanda aku jawab, “Kalau sekarang kan ibu masih cukup sejahtera. Masih bisa mencari nafkah sendiri”. Aku tak tahu apakah jawabanku menyinggung perasaannya atau tidak. Tapi memang pertanyaan itu sangat pelik, problematis. Sekurang-kurangnya membenturkan aku pada beberapa pokok masalah; keinginanku untuk memperoleh kerja yang bisa aku nikmati, kepedulianku pada dunia pendidikan, dan keinginan ibuku untuk bisa mensejahterakannya.

Sampai sekarang pertanyaan, “Mau kerja apa?” adalah salah satu faktor yang membuatku kurang nyaman di rumah, yang lain, “Kapan selesainya kuliah?”. Selebihnya alasan teknis, aku tidak mempunyai kamar pribadi yang khusus aku sendiri karena aku jarang pulang walaupun rumahku banyak kamarnya, sehingga setiap kali pulang dalam kondisi apapun aku tidur di ruang tamu di atas sofa. Udara di pesisir pantai Madura terlalu panas, membuat aku tidak nyaman. Malam harinya, banyak nyamuk yang menemani tidurku dengan cupangan merah di sekujur tangan dan badan. Rumahku terlalu ramai, berisik lantaran rumahku pas dipinggir pantai, selain suara ombak yang bertalu-talu, juga mulai jam lima pagi nelayan ramai untuk berangkat melaut mencari ikan dan jam 12 siang mereka datang. Belum lagi malamnya kalau sedang mereka kerja malam.

Biasanya para nelayan kelihatan dari sumringah wajah mereka berseri-seri dan bahagia saat mereka pulang dengan membawa ikan yang banyak, tapi ada juga yang wajahnya kusut saat mereka memperoleh ikan sedikit. Aku lihat mereka termasuk orang-orang yang selalu bersyukur atas nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya tetapi ada juga yang kurang bersyukur atas rizki Allah, terbukti ketika mereka tidak mendapatkan ikan banyak, yang mereka salahkan mesinnya kurang bagus kek, perahunya sudah tua kek, jaringnya jelek kek pokoknya semua serba disalahkan. Mereka menggerutu dengan suara yang lantang diselal-sela bunyi ombak dan mesin perahu, tidak perduli kalau tetangga mereka ada yang lagi istirahat ataupun tidur.
Tetapi walaupun begitu gambaran desaku ada satu alasan pendukung, kenapa aku masih mau pulang kampung? pacarku asli orang Madura.

Kamis, 29 Oktober 2009

Ketika Mahasantri NU Mantap Tahlilan


"...akhirnya saya pun kembali mantap Tahlilan, Istigotsah, dan ziarah kubur".

(tulisan ini sama sekali tidak bertujuan untuk mengkotak2 kan Islam, tetapi saya tahu dan yakin perbedaan [khilafiyah] itu sebuah keniscayaan. Walaupun, perbedaan hanya pada masalah-masalah furu'iyah , bukan masalah ushuliyah [pokok] dalam Islam. Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk mengunggulkan atau memojokkan, apalagi menyalahkan kelompok tertentu. Ini murni cerita perjalanan pemahaman saya, Islam itu seperti apa sih?)
Saya terlahir di lingkungan Islam tradisionalis. Biasalah, sebagaimana kehidupan pedesaan pada umumnya. Apalagi di daerah pesisir Klampis Bangkalan Madura, kultural Islam NU nya sangat kental banget. Bahkan cenderung sangat fanatik. Saya masih ingat suatu saat salah satu kyai karismatik di tempat saya pernah berkata (kurang lebih) begini:

"..toreh putra-putri kaulah sadejeh panekah didik se sae, se sesuai sareng ajeren epon Al-Qur'an ban Nabi Muhammad saw. Kaulah sareng panjenengan panekah oreng-oreng NU, NU ka'issah epangadek sareng kiai Hasyim Asy'ari ka'angguy nyelamattaghi ajeren Islam ban budaya-budaya se lo' bertentangan sareng ajaran Allah SWT ban supajeh edentitas kaulah sareng panjennengan sadejeh sebagai oreng Indonesia khususseh sebagai oreng madureh lo' elang, maka potra-potri beden kaulah sadejeh toreh didik pa ongguwan sopajeh daddih putrah se abakteh de' kadueh oreng sepponah, agema ban negereh.".
(artinya: "…marilah anak-anak kita didik dengan baik yang sesuai dengan ajaran Al-Qur'an dan Rasulullah saw. Kita semua ini adalah orang-orang NU, NU didirikan oleh Kiai Hasyim Asy'Ari untuk menyelamatkan ajaran Islam dan budaya-budaya asli yang tidak bertentangan dengan ajaran Allah SWT dan supaya identitas sebagai orang Indonesia khususnya orang madura tidak hilang, maka marilah anak-anak kita didik yang baik agar menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua, agama dan Negara…"].

Sampek segitunya. Memang di kampung saya, pendidikan PESANTREN ala NU adalah pendidikan yang wajib. Begitulah gambaran kampung saya. Selepas Mts Raudlatul Ulum Klampis, saya meneruskan Aliyah ditempat yang sama. Keputusan yang kontroversi saat saya hijrah ke sebuah Pesantren Al-Huda di Wajak Malang. Karena kebiasanya temen-temen saya yang mau mondok pasti ke Sidogiri (bahkan saudara dan sepupu-sepupuku alumni Ponpes Sidogiri) atau ke Jombang atau ke Al-Amien Prenduan, Tetapi alhamdulillah saya mondok di basis NU yang sangat kuat dan kental walaupun salah satu lembaganya adalah pondok Tahfid yang hampir semua santrinya adalah anggota Jemaah Tabligh. Saya belajar Islam di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyyah yang berhaluan Ahlisunah wajamaah (Aswaja) nya NU sekaligus juga belajar bersama santri-santri jemaah tabligh. Walaupun pada awalnya hanya ikut-ikutan sedangkan di pondok itu kita bebas memilihnya, sungguh luar biasa pengasuh tidak mendokrinnya bahkan memberikan wawasan dan sebuah pilihan yang sangat demokratis (selama ini ponpes di imejkan institusi yang dokrinal dan otoriter).

Dalam Jemaah Tabligh yang awalnya saya hanya pengen tahu jadi penasaran dan akhirnya ikut mereka jaulah dan ambil bagian dari dakwah mereka.Sempat pakek celana cingkrang, dan memelira jenggot. Sempat juga menelusuri gang-gang sempit di pinggiran desa dan kota. Bahkan pernah pergi ke Markas nya JT di Temboro Magetan. Pernah juga mabit bermalam dari masjid kampung ke kampung lain. Saya juga pernah diusir dari suatu kampung pas malam-malam dikiranya teroris karena pakai jubah dan berjenggot. Tapi amirnya memberikan wejangan kepada saya sambil bercerita kalau dahulu Rasulullah ketika berdakwah ke thaif ditolak dengan kasar. Nabi Saw. Di usir, di soraki dan dikejar-kejar sambil di lempari dengan batu dengan anak-anak kecil. Walaupun terluka dan sakit, Beliau tetap mendoakan mereka dan sabar, berlapang dada serta ikhlas. Meghadapi cobaan yang di hadapinya.

Berbeda dengan di atas, suatu saat pernah terjadi kontraproduktif pada diri saja. Di satu sisi saya sering diskusi dengan teman-teman teman-teman di HTI yang harus memperjuangkan Khilafah Islamiah. Tidak ada kemuliaan Selain Islam, dan Tidak ada Islam tanpa Syariah. Dan tiada Syariah tanpa Khilafah Islamiyah. Jadi Pemerintahan Islam itu harus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Begitulah perjalanan bagaimana saya memahami Islam, penuh kontraproduktif dengan hati nurani saya sendiri.

Sampai suatu saat saya kuliah di IDIA Prenduan di ujung timur pulau madura. Di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan begitu beragam, santri-santrinya dengan bebas mengamalkan ajaran NU begitu pula temen-temen Muhammadiyah juga bebas mengamalkan ajarannya. Yang 'NU' banget ada dan yang Muhammadiyah 'Tok' juga ada.

Kemudian saya melanjutkan ke CIOS (Centre for Islamic and Occidental Studies ) ISID Gontor Ponorogo, yang sekarang sudah berubah menjadi Universitas Darussalam Gontor Ponorogo, tambah kaget lagi saya pertama kali berada di Masjid ISID Gontor, terdapat banyak sekali perbedaan tapi saling menghormati antara satu dengan lainnya karena para mahasiswa bermacam-macam latar belakangnya, ada yang dari Muhammadiyah, NU, PERSIS, dan berbagai pondok pesantren salaf dan modern lainnya. Akhirnya saya mengerti berbagai macam organisasi Islam termasuk NU tidak hanya di pedesaan, tapi juga di tingkat mahasiswa pasca sarjana juga diwacanakan. Sampai sekarang saya begitu getol membaca literatur-literatur tentang NU yang membuat saya kembali mantap dengan NU saya (bagi saya hanya santri yang ilmunya cempreng saja yang menggugat tahlilan).
Akhirnya saya pun kembali ke 'NU' banget dan kembali mantap Tahlilan, Istigosah, dan ziarah kubur (setiap liburan 'pulang kampung' saya sempatkan ke kuburan ayahanda). (bersambung)…