Madura Lumbung Santri dan Intelektual

Rabu, 19 Agustus 2009

Jenggot dan Surban, Produk Budaya Arab?



Oleh : Badrus Syamsi
Asal : Bangkalan

Peristiwa ini terjadi ketika penulis dalam masa pengabdian di suatu pondok pesantren salaf Al-Huda Wajak Malang, waktu itu ada tamu alumni yang dulu satu kelas dengan penulis di pondok pesantren tersebut. Dia baru satu semester diterima di salah satu Universitas Islam yang terkenal di Malang. Seperti pada umumnya budaya santri yang sudah alumni, tidak lupa selalu memanfaatkan waktu luangnya untuk silaturrahim kepada para kiai dan teman-temannya. Karena sama-sama kangen kamipun malam itu juga, mengajak dia berkumpul dengan teman-temannya dan meminta dia bercerita tentang pengalamannya di kampus.
Tetapi setelah beberapa saat, dari pendapat-pendapatnya ada sesuatu yang ganjil dan berbeda dengan apa yang kami sama-sama pelajari dulu. Dia mengatakan kepada kami "bahwa jenggot yang kamu pelihara dan surban yang kamu pakai itu bukanlah sunnah Rasulullah, tapi itu adalah produk budaya Arab" dus.. "Astaqfirullah.." kami tersentak, tapi dia seperti tidak punya dosa dengan ucapannya tadi, yang pada akhirnya menimbulkan perdebatan yang hebat diantara kami dengan mengungkapkan argumen masing-masing dan sampai larut malampun tidak ada titik temunya.
Kisah ini adalah salah satu kasus dari beberapa kasus alumni sebuah pondok pesantren yang menentang sunah Rasulullah saw setelah mereka menjadi mahasiswa di sebuat Perguruan Tinggi yang berlabelkan Islam. Dari cerita di atas bisa kita mengambil sekurang-kurangnya dua pelajaran yang sangat penting, pertama adalah hakekat seorang mahasiswa muslim dan yang kedua hadits Rasullullah saw. Yang diklaim sebagai produk budaya arab.
Pertama, hakikat seorang mahasiswa muslim adalah sebagaimana yang diharapkan oleh Fatullah, salah satu dosen Pasca Sarjana di UI Jkt, UIN Jkt, UIN Bandung, dan beberapa Universitas Islam terkemuka lainnya, Fathullah mengatakan bahwa menjadi mahasiswa jurusan ilmu-ilmu agama, baik itu tafsir, hadits, fiqh, aqidah, dakwah dan lain-lain secara sengaja sudah mengarahkan dirinya untuk menjadi ulama dan pakar dalam bidang kajian yang digelutinya. (Fathullah:2007, hal. 25)
Harapan Fathullah, seorang mahasiswa muslim jika selesai studinya mampu meneruskan estafet perjuangan para ulama, yang akhir-akhir ini diserang dari berbagai arah oleh musuh-musuh Islam yang menginginkan agar agama Islam perlahan-lahan hancur atau minimal menjauhkan umat islam dari agamanya. Tentunya membutuhkan sarjana muslim yang cukup handal untuk menghadapinya, bukan justru menghancurkannya seperti mahasiswa mantan santri yang telah penulis ceritakan di atas.
Kedua, hadist rosullullah SAW diklaim sebagai produk budaya arab. Gugatan terhadap hadits bermula pada pertengahan abad ke-19 masehi oleh orientalis dan pertama kali yang mempersoalkan status hadits dalam islam adalah Alois Sprenger seorang orientalis-misionaris asal jerman yang mengklaim bahwa hadits merupakan kumpulan anekdot (cerita-cerita bohong tapi menarik). (Syamsuddin: 2008, hal. 28) Orientalis yang dimaksud disini adalah para ilmuan barat yang mengkaji Islam dari berbagai aspeknya dengan tujuan membantah kebenaran Islam dan menunjukkan celanya. (Khadhar: 2005, hal. 76)

Tuduhan bahwa Hadits adalah hasil produk budaya Arab diamini oleh Ignaz Goldziher seorang Yahudi kelahiran Hungaria ini sempat "nyantri" di Univesitas Al-Azhar Kairo, Mesir selama kurang lebih setahun (1873-1874). Menurut dia hadist adalah produk bikinan masyarakat Islam beberapa abad setelah Nabi saw. Wafat, bukan berasal dan tidak asli dari beliau. (Syamsuddin: 2008, hal. 30)

Kemudian di Mesir muncullah Nasr Hamid Abu Zayd yang mengingkari otentisitas sunnah Rasululullah saw bahkan mengatakan Al-Qur'an adalah produk budaya (muntaj tsaqafi) sehingga Mahkamah Agung Mesir pada tanggal 5 Agustus 1996 mengeluarkan keputusan bahwa Nasr Hamid Abu Zayd dinyatakan murtad dan perkawinannya dibatalkan. (Syamsuddin: 2008, hal. 188)
Menurut M. Natsir, orang yang tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengetahuan adalah seorang sekularis. Sedangkan gerakan sekularisasi di Indonesia di mulai akhir tahun 1960 oleh aktivis Islam yang tergabung dalam Lingkaran Diskusi Limited Group, yang sangat terpengaruh oleh buku "The Secular City"nya Harvey Cox. Diantara anggotanya yaitu Dawam Raharjo, Djon Effendi dan Ahmad Wahid. (Husaini: 2009, hal. 37)

Sekularisasi masuk ke Perguruan Tinggi bisa dikatakan dimulai tahun 1973 dengan ditetapkannya buku Islam ditinjau dari berbagai aspeknya karya Prof. Harun Nasution (alumnus Studi Islam McGill University) sebagai buku wajib dalam studi Islam di PTI. Pada tanggal 3 Desember 1975, Prof. HM Rasyidi, menentang keras bukunya Prof. Harun Nasution dan mengkritik fasal demi fasal bahwa buku itu sangat berbahaya, sekaligus meminta kepada Kementrian Agama mengambil tindakan terhadap buku tersebut. Sayangnya buku tersebut sampai sekarang masih dijadikan sebagai buku wajib di seluruh IAINdi Indonesia. (Husaini: 2009, hal. 39-40)
Pendapat-pendapat yang menyesatkan dalam buku-bukunya orientalis dan Neo-Orientalis ini langsung ditelan mentah-mentah dan diadopsi tanpa adapsi kritis oleh beberapa mahasiswa IAIN Indonesia. Sehingga tidaklah heran, jika Universitas Islam atau Perguruan Tinggi Islam di Indonesia melahirkan sarjana Muslim yang ikut-ikutan orientalis mengecam hadist Rosulullah saw. walaupun masih banyak juga mahasiswa muslim yang berpegang teguh kepada al-Qur'an dan hadits Rosulullah saw. Semoga bermanfaat.
Daftar Pustaka
 Fathullah, Ahmad Lutfi, "Selangkah Lagi Mahasiswa UIN Jadi Kiyai" (Al-Mughni Pres Kuningan Jakarta 2007)
 Syamsuddin, Arif, "Orientalis dan Diabolisme Pemikiran" (Gema Insani Jakarta 2008)
 Khadhar, Lathifah Ibrahim, "Ketika Barat Memfitnah Islam" Penerjemah Abdul Hayyie (Gema Insani Pres Jakarta 2005)
 Syamsuddin, arif, "Orientalis dan Diabolisme Pemikiran" (Gema Insani Jakarta 2008)
 Adian Husaini, "Indonesia Masa Depan perspektif Peradaban Islam" Disampaikan Dalam Acara Tasyakkuran dan Orasi Ilmiah DR. Adian Husaini oleh INSISTS di Aula Masjid Al-Furqan-DDII Indonesia, 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar